Kamis, 24 Desember 2015

Why I hate Chirstmast

Kemarin hari malam natal. Aku pergi gereja bersama kedua orang tuaku. Tetapi, aku duduk sendiri di ujung belakang bagian kanan ruangan ibadat karena orang tuaku menjalankan tugas sebagai pembawa persembahan untuk altar.

Sebelumnya aku dikabarkan akan dijemput jam 5 di rumah pacarku tepatnya diwarnet tempat mencari nafkahnya. Aku telah bersiap sekitar jam 5 itu dan kenyataannya aku dijemput jam 6. Aku cukup sabar menunggu dan tidak mempermasalahkan hal itu.

Ketika aku dijemput aku langsung pergi dngn ortuku, pacarku tak ikut, karena dia menjadi OP net,dan yang paling penting adalah dia bukan Khatolik.
Ketika aku mengingat tentang itu, aku selalu merasa sedih.

Selama misa berlangsung aku selalu merasakan kesedihan itu juga. Aku tidak bisa mengubah keadaan dan aku tidak bisa memaksa orang untuk seagama juga, Cita-cita terbesarku dari dulu adalah menikah di gereja dihadapan Tuhan, Dan jika aku melanjutkan dengan dirinya aku tak bisa melakukan hal itu. Tetapi kucoba lihat dari sisi lain, itu hanya egoku saja, dan aku mencoba menerima pacarku dengan keadaannya. Biarlah suatu hari nanti aku menyampingkan cita-cita terbesarku.

Dan ketika aku di gereja, aku melihat wajah-wajah manusia yang sangat gembira merayakan misa natal. Saat itu juga aku merasa kesepian padahal aku ditengah banyaknya manusia yang gembira, tak ada senyuman yang dapat terlontar dari wajahku saat itu. Ingin menangis rasanya.

Setelah misa berakhir, aku menuju pintu keluar ruangan ibadah. Aku melihat papa yang sedang berdiri disana, dan aku mengatakan aku tunggu saja dibawah mobil, dan ia menjawab, tunggu sebentar, ia nanti ingin lihat2 disekitar ruang ibadat dan berfoto di kandang natal.

Dan aku menjawab, "iya, aku tunggu dibawah saja.". Pada saat itu kesedihankupun menggunung, air mata tak tertahankan lagi dan aku meninggalkan ruangan dan gedung ibadat tersebut lalu berjalan sekitar 4 menit dan sampai ke warnet tempat pacarku itu.

Airmataku tak tertahakan, mungkin karena aku juga baru dapat menstruasi jadi agak lebih sensitif,
Dan aku menangis tersedu-sedu disana.Sebenarnya aku tak tahu jelas kenapa aku menangis dan sedih dan apa yang membuat aku sedih saat itu.

Dihari itulah aku merasakan malam natal yang sangat tidak berarti dalam hidupku.

Beberapa saat setelah aku menenangkan diriku, aku mencuci muka di belakang dekat kamar mandi. Akibat mata yang sembab dan hidugn yang sudah meler-meler daripada ketahuan nangis sama orng-orng di net.

Saat aku mencuci muka, pacarku datang menghampiri dan karena kasian melihatku dia mulai menghiburku. Disaat itu mamaku datang, dan kaget, kenapa kami berdua-duaan di belakang.
Pacarku mengambilkan aku air minum dan aku minum untuk mengurangi tampang ku yang udah ancur gak berbentuk, dan aku menutup sebelah mataku dengan tisu, Dengan alasan mata masuk debu,

Mamaku mengajak kami makan malam. Dan dengan spontan pacarku menjawab tidak mau lah i, masih kenyang, belum mandi, warnet gada yang jaga dan dengan alasan klasik lainnya. Aku sebenarnya memang juga tidak mood makan, dan mamaku merasa tersinggung karena kami menolak padahal aku menolak karena kemauanku sendiri bukan karena ikut2an pacarku, Mungkin pacarku juga segan karena diajak pergi makan terus, dibayarin ortu terus. Kalo aku jadi dia sih juga segan.

Lalu aku pulang, Selama di perjalanan pulang, hatiku dengan keadaan yang masih rapuh mengalami beberapa cobaan lagi. Mama dan papa terus saja mengomel-ngomel tentang si koko(pacarku) yang tidak mau diajak pergi dan tidak mau diajak ke gereja. Sebenarnya mereka tidak suka sama si koko karena agama nya bukan agama khatolik. Tapi aku bersikeras membela si koko dengan berbagai alasan sekalian menghibur diriku sendiri.

Memang aku salut orang tuaku orang yang terlalu gila ke gereja berdua.Apa-apa baju kopelan, ganti ganti molo. Mau ke gereja apa fashion show sih. Sebenarnya aku juga mengidamkan aktivitas itu untuk masa depanku, Tapi aku kesampingkan dulu keinginanku itu.

saking gila nya mereka ke gereja dan saking cintanya mereka sama agama menjadikan mereka orang yang rasis. Disitu kadang saya merasa sedih, ketika setiap hari aku memakan bualan rasis mereka tentang si koko. Aku tidak berdaya, ku hanya bisa menyimpannya saja dan diam. Kalau aku melawan nanti dikata anak durhaka.

Dan entah mengapa mereka benci sekali dengan orang yang merokok. Aku setiap hari tertekan juga dengan mereka yang selalu ngomel2 kalau si koko merokok. Aku juga cuma bisa menyimpannya. Tak mungkin juga aku curhat ke si koko. Nanti dia tersinggung dan sedih, apalagi kalau udah urusan agama.

Ketika dia bertanya, aku pasti jawab diriku baik-baik saja dan aku membalas chatnya dengan senyuman dan menghibur dirinya yang mencemaskanku. Dibalik aku membalas chatnya itu, diriku sangat tertekan dengan sambil mendengarkan celotehan yang setiap hari kudengar dan airmata yang tak tertahankan.

Malam itu, aku sangat rapuh. Setelah aku mencoba menghibur diri dan menghabiskan air mata, aku menelpon dengan koko melalui line. Sambil menelpon aku membuat kartu ucapan selamat ultah untuk koko yang akan ultah tgl 27 nanti. aku menyelesaikannya dan tidur ketika angka menunjukkan pukul 1.30 am. Dan pada saat itu mama aku terbangun dan mengingatkan bahwa akan pergi gereja besok misa tiga (jam 9.15).

Dengan harapan baru mengharapkan natal yang lebih indah paginya, hatiku hancur berkeping-keping.
Ketika aku dibangunkan oleh mama dengan cacian dan omelan tentang si koko yang berbeda agama dan membuatku lemah dan malas ke gereja. Aku tanya, aku malas ke gereja kayak apa lagi? Setiap minggu aku pergi gereja sesuai kemauan mereka. Malam natal walaupun sedih dan sendiri aku juga kegereja, tanpa mementingkan keegoisanku. Aku selalu salah. Setiap hari aku selalu makan bualan itu.

Dengan perutku yang sakit, mata yang ngantuk dan badan yang sakit, aku mencoba bangun dari tempat tidurku. Ketika aku ingin bangun, mama selalu mengomel dengan omelan tetang si koko yang sama. Aku kembali berbaring dan menahan air mata karena hati yang rapuh ini mulai terkikis dan hancur. Lalu aku mencoba lagi bangun. Tapi mama masih juga membual dan membuatku kesal, hal itu terulang terus dan sampai jam menunjukkan pukul 8.15 am.

Ketika itu aku menyemangati diriku dan bangkit mulai menyisir rambutku yang kusut. Dan mencari baju apa yang aku akan gunakan. Karena aku sebenarnya tak sanggup pergi dengan ortu ku karena mereka selalu bergaya dan aku hanya punya baju itu itu saja.

Jam menunjukkan pukul 8.20 am dan papaku sudah berteriak2 takut telat dan menjudge bahwa aku gak bisa pergi bareng mereka karena telat. Disitu puncak kesedihanku, aku terduduk termenung didepan lemari pakaian dan mencoba menahan ait mata. Ketika itu mereka mengunci pintu dan pergi ke gereja,

Aku sangat sedih. Sekarang aku sedang menulis tulisan-tulisan ini disudut kamarku dengan komputerku yang selalu menemani ku dari 4 tahun terakhir ini, sebagai pengganti curahan kesedihan hatiku yang tak tau ingin di buang kemana.

Dan karna itu aku benci natal, Asal kau tahu ma. Aku benci natal bukan karena pacarku yang menghasutku untuk membenci agamaku tetapi karena perkataanmu yang tajam yang setiap hari menghancurkan dan mengikis kebahagiaanku yang sudah aku bangun selama ini. Sekarang benar-benar hancur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar